jejak grebeg syawal
JEJAK SINGKAT GREBEG SYAWAL
Kala itu Kanjeng Sunan Ampel belum wafat. Sidang Waly Sanga di adakan di Mande Jajar, yang terletak disekitar Astana Gunung Jati Cirebon, yakni ruang khusus terbuat dari kayu, hadiah pemberian dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi untuk Kanjeng Sunan Gunung Jati (Cucunya.)
Sidang Waly Sanga bertepatan pada awal bulan Syawal. Setelah usai sidang, Kanjeng Sunan Gunung Jati mengajak para Wali Sanga dan seluruh Santri, bersilaturahmi kerumah Guru Tarekatnya yaitu Syekh Dahtuk Kahfi, saat itu tengah singgah di Singhapuran, Mertasinga. Dalam hal ini disebut Halal Bihalal.
Bermula pada momentum tersebut, Kanjeng Sunan Gunung Jati kemudian memperkenalkan Adat Halal Bihalal dikhalayak ramai. Seiring waktu dikembangkan serta disebarluaskan secara bertahap, dari Caruban Nagari hingga keseluruh pelosok Negeri di Nusantara.
Malah Adat Halal Bihalal pada masa itu tidak hanya dilaksanakan oleh para pemeluk Agama Islam saja, akan tetapi juga diramaikan oleh para pemeluk Agama atau penganut keyakinan lainnya. Kemudian hari muncul istilah Grebeg Syawal.
Gagasan Kanjeng Sunan Gunung Jati Cirebon mengusung Halal Bihalal yang memiliki varian Grebeg Syawal, sesungguhnya adalah representasi nurani kearifan lokal, ditradisikan untuk mempererat tali kerukunan, di Adatkan untuk menepis segala macam sekat-sekat kefanatikan. Nusantara itu menjunjung tinggi hidup gotong royong.
Artinya! Dengan Halal Bihalal atau Grebegkan Syawal, meski tak seiman! Tentang persaudaraan sebagai sesama, haruslah berdiri di atas segalanya. Agama bisa jadi beda, namun jangan pernah gagal memanusiakan manusia. Begitu pesan singkatnya!
Alangkah indahnya Indonesia bila para pemuka Agama di era digital memiliki gagasan yang demikian. Dalam nalar sehat, hal tersebut justru terbukti amanah dalam menjaga sekaligus mengamalkan azas-azas Pancasila.
Garis besarnya! Yakni membawa paham-paham persatuan serta cinta kasih. Sehingga musnah segala birahi ingin menang sendiri dan hilang segala nafsu permusuhan. Tentu Bangsa ini terpandang lebih bermartabat, terhormat, terasa damai, aman dan sentosa.
Jika mau menyadari! Sungguh saat ini kita sedang butuh para panutan. Yaitu sosok-sosok yang meneladani dalam kebaikan, memotivasi dalam keluhuran, berbudi pekerti tinggi, mulia dalam adab pun tidak serta merta gemar menciptakan kegaduhan.
Terpujilah orang-orang terpuj.



