Budha Menyebarkan Dhamma Bukan Untuk Menarik Umat
Buddha Menyebarkan Dhamma bukan untuk menarik umat
(Dīghanikāya; Pāthikavagga 2; Udumbarikasutta; Paribbājakānaṃ pajjhāyanaṃ 78)
*********
Cuplikan sebagian Udumbarikasutta
Buddha mengajarkan Dhamma tidak bermaksud mencari umat sebanyak-banyaknya, atau membuddhiskan umat agama lain.
Hal ini dijelaskan Buddha kepada seorang petapa yang bernama Nigrodha ketika bermukim di bukit Gijjhakūṭa dekat kota Rājagaha dan Buddha meluruskan pandangan negatip serta kecurigaan yang muncul pada diri petapa Nigrodha ketika mendengar Buddha mengajarkan Dhamma.
O Nigrodha, mungkin kamu berpikir begini: “Petapa Gotama berkata seperti itu karena menginginkan kami jadi murid Nya”.
Nigrodha janganlah kamu berpandangan seperti itu, namun hendaknya dipahami seperti ini:
- “Siapapun yang telah menjadi gurumu biarlah dia tetap menjadi gurumu”
(Yo eva vo ācariyo, so eva vo ācariyo hotu)
- `Apapun yang telah menjadi aturan agamamu, biarlah tetap menjadi aturan agamamu`
(Yo eva vo uddeso so eva vo uddeso hotu)
- `Apapun yang telah merupakan kehidupanmu, biarlah tetap menjadi kehidupanmu`
(Yo eva vo ājīvo, so eva vo ājīvo hotu)
- `Apapun yang buruk bagimu dan dianggap buruk oleh orang seperguruan kalian`, biarlah tetap menjadi yang buruk` (Akusalā ceva vo te dhammā hontu akusalasaṅkhātā ca sācariyakānaṃ)
- `Apapun yang baik bagimu dan dianggap baik oleh orang seperguruan kalian`, biarlah tetap menjadi yang baik` (Kusalā ceva vo te dhammā hontu kusalasaṅkhātā ca sācariyakānaṃ)
Demikianlah o Nigrodha, aku berkata begitu bukan karena mengharapkan murid,
aku berkata begitu bukan karena mengharapkan untuk mengubah aturan agama,
aku berkata begitu bukan karena mengharapkan mengubah penghidupan,
aku berkata begitu bukan karena mengharapkan mempertahankan sesuatu yang buruk atau dianggap buruk oleh orang seperguruan kalian,
aku berkata begitu bukan karena mengharapkan pelanggaran sesuatu yang baik atau dianggap baik oleh orang seperguruan kalian.
Ada! o Nigrodha, sesuatu yang buruk apabila tidak ditanggalkan akan menimbulkan kotoran batin, menuntun pada kelahiran kembali, ketidak bahagiaan, dan mengakibatkan penderitaan.