Mengapa di media sosial banyak yang rasis ke suku jawa ? apa karena layak di hujat habis habisan ?


MENGAPA DI MEDIA SOSIAL SEKARANG BANYAK YANG RASIS , SARA , DISKRIMINASI ATAU MENGHUJAT SUKU JAWA ( JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR BUKAN PULAU MADURE)



 Saya sudah pernah bahas di awal bulan Desember, di jawaban soal presiden dari Orang Jawa, meskipun tidak secara khusus membahas topik pertanyaan ini, namun di situ saya sudah menceritakan bahwa penghinaan terhadap suku Jawa dipicu oleh kecemburuan sosial karena pemerintah lebih memfokuskan pembangunan di Pulau Jawa, sebenarnya penghinaan terhadap suku Jawa ( jawa tengah dan jawa timur bukan pulau madura)di internet sudah ada sejak zaman blog, saya menemukan blog-blog yang isinya menghina suku  Jawa ( jawa tengah jawa timur bukan pulau madure) sejak saya duduk di Bangku SMA, dan itu cukup membuat saya kaget, bedanya dengan sekarang adalah, pada saat "Zaman blog", internet belum bisa diakses oleh masyarakat luas seperti sekarang, orang yang bisa mengakses internet di zaman itu adalah orang-orang yang paling tidak tergolong dalam ekonomi kelas menengah dan memiliki riwayat pendidikan yang baik, dan dalam blog yang menghina suku Jawa( jawa tengah jawa timur bukan pulau madure) tersebut biasanya disertakan apa alasannya, seperti ketimpangan pembangunan dan separatisme, blog-nya itu sekarang sudah tidak bisa saya telusuri lagi.





screenchoot di atas adalah cina tionghoa ( asiatic mongoloid / bangsa sipit) yang menghujat suku urang jawa ( jawa tengah dan jawa timur bukan pulau madura madure)

Sama seperti pembangunan ekonomi dan infrastruktur  pembangunan Manusia kita juga sama, bahkan di Jawa sendiri banyak juga yang kurang, tahu lah pendidikan kita seperti apa, misalnya saya dulu sekolah dapat peringkat karena kesalahan teman-teman saya, mungkin juga anak-anak "pintar"yang lain, "pintar" karena yang lainnya (mohon maaf) bungul , dungku yaitu  "bodoh" atau tidak niat sekolah, makanya kita masih kalah dengan luar negeri (tapi Amerika serikat tidak ya, di sana juga banyak yang ngaco), orang-orang yang biasa-biasa saja seperti saya jadi "pintar" karena yang lainnya "tidak serius'' schoo





Dulu ketika internet masih lebih sulit untuk diakeses( itu juga sudah zaman warnet tapi kan biasanya pada mainan game) jarang ada orang yang berkomentar tentang etnis, suku, dan ras, namun karena belakangan ini ekonomi kita jadi susah banyak orang yang mengungkapkan kekesalannya pada pemerintah yang dianggap sebagai "representasi orang Jawa", dulu saat zaman warnet ekonomi kita lebih baik dan orang tidak "menyadari" atau memikirkan hal-hal seperti itu, πŸ₯± terlebih lagi saat ini isu "Jawanisasi" naik lagi.




Di blog-blog yang dulu saya temukan selalu ada sebab dan uraiannya sangat jelas, tapi orang-orang yang kurang baik yang sekarang bisa mengakses internet melakukan penghinaan dengan lebih kasar dan tanpa menyebutkan apa sebabnya, seperti menghina suku  Jawa sebagai "kuli" atau pekerja kasar, tanpa menyebutkan kenapa mereka menghina suku Jawa, untuk suku  Jawa sendiri sebenarnya mengalami "kehidupan yang ironis", kehidupan yang ironis atau hidup dalam ironi itu dulu saya baca di koran suara merdeka edisi koran minggu, koran Jawa Tengah, yang menyebutkan bahwa Pulau Jawa itu kecil tapi penduduknya paling banyak, pulau yang kecil tapi jadi pusat Indonesia yang besar, banyak pejabat dan pemimpin Negara Indonesia ini orang Jawa, tapi banyak orang Jawa yang hidup sulit dan jadi kuli atau pekerja kasar bahkan sampai jadi buruh migran yang disiksa dan dilecehkan secara seksual di luar negeri, πŸ€”πŸ˜… πŸ™ mohon maaf di koran minggu itu entah edisi ke berapa, sudah bertahun-tahun lalu, ada yang bilang kalau NKRI itu Negara Kuli Republik Indonesia, karena pemerintah seolah-olah hanya membuat lapangan pekerjaan untuk tenaga kasar, itu koran Jawa tengah bukan hinaan dari orang " luar Jawa" . Waduh ini banyak sekali bahayanya saya nulis apa yang saya baca bertahun-tahun lalu, kalau ada yang memperkarakan agak sulit mencari buktiya kalau itu kata orang menulis di koran. Itu keprihatinan orang Jawa sendiri.






Nah untuk orang "non Jawa" atau "luar jawa" yang menghina suku  jawa sebagai kuli, itu sebagai reaksi terhadap kekuasaan politisi Jawa di Indonesia, sebagai "perlawanan" terhadap dominasi tersebut, dicarilah sisi lain suku  Jawa, yaitu banyak yang menjadi pekerja kasar, saya sendiri prihatin dengan hinaan itu karena suku Jawa yang menjadi pekerja kasar itu tidak tahu apa-apa dengan inkompetensi dan korupsi yang dilakukan oleh para koruptor yang juga politisi dari suku  Jawa. Kalau para kuli itu ikut menikmati harusnya mereka tidak menjadi kuli.






but di beberapa blog juga ada yang memiliki pikiran seperti teori konspirasi, misalnya mengatakan kalau para elit politik dari suku Jawa sengaja tidak mensejahterakan masyarakatnya agar bisa dan mau dijadikan tenaga "kasar" yang dikirim ke pulau lain dan mereka melakukan "Jawanisasi" di sana, yang lebih buruk lagi ada blog yang mengatakan kalau etnis atau suku lain akan dijadikan kuli juga dengan proses Jawanisasi itu sehingga budaya etnis atau suku lain yang seharusnya bisa lebih maju misalnya jadi pengusaha atau pedagang hilang dan orangnya ikut-ikutan orang Jawa jadi kuli(Naudzubillah himindzalik),kalau ada rencana seperti itu negara kita bisa menjadi terbelakang . Maaf sekali kalau ini menyinggung banyak orang .






Saya tidak tahu apakah ada konspirasi seperti ituπŸ˜…πŸ€£tapi saya berprasangka baik bahwa itu tidak ada, namun apa yang diduga oleh blog yang "overthinking" tadi ada kemungkinan untuk terjadi, blog-nya itu juga menuduh kalau suku  Jawa "kuli"(mohon maaf) yang dikirim ke luar Jawa itu berpura-pura baik dan kemudian menusuk orang setempat dari belakang, suku Jawa dituduh sebagai pengkhianat, kemudian mengambil alih dan menguasai daerah itu dan membuat orang di situ jadi suku Jawa yang juga jadi (maaf) kuli.






Menanggapi hal tersebut saya punya saran kepada orang di luar Jawa yang kalau benar menghadapi situasi yang seperti itu, πŸ₯± kali memang benar suku Jawa di daerah Anda berpura-pura baik dan mengkhianati orang asli, orang di daerah Anda juga harus minimal berpura-pura baik, ya sebaiknya benar-benar baik, akal suku Jawa yang kadang dihina sebagai "blangkon" tidak akan kalah oleh cara yang brutal dan vulgar, untuk mengkonter apa yang disebut oleh" Orang Luar Jawa " sebagai "filosofi blangkon" itu harus dengan cara yang baik dan halus, intinya jika di permukaan orang itu baik anda juga harus baik, kalau memang diam-diam ada niatan jahat harus ditangkap dengan cara yang halus, kalau ada yang curiga suku  Jawa dengan segala kebaikannya akan "menjawakan" "luar Jawa" maka yang paling tepat untuk "orang luar Jawa" adalah membuat suku  Jawa berasimilasi dengan budaya dan adat istiadat setempat, tentu tidak dilakukan dengan paksaan namun dengan cara yang baik dan halus, sehingga mislanya di suatu tempat budayanya adalah pedagang agar tidak dijawanisasi dan (mohon maaf) "kulinisasi"maka orang Jawa yang datang bisa diajak berkerja sama dalam usaha, kalau suku Jawa yang ada di sana memang mau menusuk dari belakang pakai cara halus. Cara halus ini bukan sihir, tapi tangkal dengan "manuver " dan penghindaran, kalau tidak bisa Atau suku  Jawa yang ada di sana "dikasih hati minta jantung" tetap balas dengan cara halus bukan sihir tapi mavuner seperti politisi (bukan seperti pesawat tempurπŸ˜…πŸ™πŸ€”)


Saya rasa ada tuduhan lain yang ditujukan pada suku Jawa, yaitu suku Jawa "abangan" suka merusak budaya di "luar Jawa" yang lebih Islami di tempat yang budaya muslimnya kuat, seperti membawa kebiasaan minum-minuman keras, berzina, dangdutan, saweran, ronggeng(zaman dulu di Sumatera Utara) , untuk ini saya belum tahu solusinya, suku Jawa santri memang jarang merantau, karena biasanya hidup mereka itu tertib, tapi kalau ada suku Jawa santri bisa diajak untuk bekerjasama untuk menghadapi suku Jawa "abangan", suku Jawa santri lebih paham soal suku  Jawa "abangan" jadi mereka tahu cara untuk menghadapi atau minimal agar tidak terpengaruh, untuk zaman sekarang ini sudah agak sulit untuk membedakan antara santri dan abangan, memang ada juga yang menolak pembedaan itu, karena dianggap pecah belah oleh Belanda, πŸ™„ πŸ€” tapi saya kira sebagai spektrum memang ada, untuk zaman dulu Orang Jawa santri biasanya namanya Nama Arab Islam, atau campuran nama Jawa dan Islam .




screenchoot di atas adalah kampung suku melayu ( di duga)


Saya mohon maaf, suku Jawa "Abangan" kadang jadi miskin dan terpaksa harus bekerja kasar karena "jatuh" sebab maksiat, misalnya kebanyakan judiπŸ™„, seperti yang terjadi pada kuli kontrak di Deli zaman Belanda, suku  Jawa "santri" juga ogah ikut Belanda Karena Belanda membawa kebiasaan yang tidak islami . kita indak ditakdirkan untuk disukai  semua orang. yang benci biarlah benci dengan alasan alasannya sendiri. jangan berusaha menyakinkannya, sebab dia akan selalu lebih yakin pada kebenciannya . nabi muhammad SAW saja indak merespon waktu dibully dan difitnah . suku jawa dibully dan difitnah diam indak merespon boleh jadi indak tau kalau suku dan provinsinya sedang dibully dan difitnah dan boleh jadi karena meneladani akhlak Nabi MUHAMMAD SAW dan ALLH SWT indak pernah menyuruh hambanya untuk marah apalagi dendam waktu dibully dan difitnah 

ALLAH SWT maha melihat maha mendengar dan maha mengetahui dan AZAB ALLAH SWT sangat berat dan ada FIRMAN ALLAH SWT UNTUK YANG DIBULLY DAN DIFITNAH  jadi kita jangat takut akan bullly dan fitnah mereka karena fitnah dunia indak  ada apa apanya dengan fitnah akhirat 




 Biasanya Belanda mengadakan perjudian di saat para kuli kontrak itu digaji agar mereka tidak punya pitih ( uang) dan terus terjebak menjadi kuli kontrak, ini bukan menghina suku  Jawa "abangan", mohon maaf, tapi saya kira menjadi muslim yang shaleh (eh taat, saya ngga berani mengaku shaleh), juga menjauhkan diri dari masalah-masalah seperti bangkrut karena judi, zina, dan miras, kalau sudah taat but bangkrut karena sebab lain ya nasib.



foto di atas adalah foto cina tionghoa yang menghujat suku jawa di aplikasi facebook
Yang ada NKRI harga mati.





Apalagi karena sinetron sialan yang telah membuat beberapa oknum menghina budaya suku  Jawa.


"Orang yang dibelakangku membicarakan suku dan provinsi saya , mungkin ia membahayakan dunia saya , but yang jelas ia bermanfaat untuk Akhirat saya. Maka biarlah ia  benci suku saya dengan berbagai alasan dan argumennya." 

-Imam As-Syafi'i




"Lebih Baik Menyiapkan Diri untuk kematian, dari pada menyiapkan diri untuk menuju Pelaminan Karena Kematian Sudah Pasti akan datang but pernikahan Belum tentu kita akan selenggarakan."






Program transmigrasi adalah kolonisasi.
memiliki nilai SARA yang tinggi










Postingan populer dari blog ini

Tembang Dhandhanggula Kagem Siraman

Lirik Dan Makna Kidung Cublak Cublak Suweng Jawa Tengah

MENGHUJAT DAN MEFITNAH SUKU JAWA TRENDING DI APLIKASI FACEBOOK